“The ishs/Allen Project” Album Launch Review on BUSET

BUSET, an Indonesian magazine published in Australia, has published a gig review and interview. If you can read Indonesian, check it out.


Full text:

Peluncuran perdana “The ishs/Allen Project”

Tepat pada 4 Maret 2015 kemarin, musisi jazz asal Indonesia, Ade Ishs meluncurkan album kerjasamanya dengan drummer jazz Chelsea Allen. Kedua seniman yang sebelumnya terlibat di grup Ade Ishs trio bersama Daigo Nakai itu, kini mengeluarkan album yang berjudul “The ishs/Allen Project” (TiAP) bersama dua rekan mereka, Paul Bonnington di posisi bass dan Ee Shan Pang di terompet.

Acara dimulai pukul 9 malam di Paris Jazz Club yang terletak di Goldie PIace, dimana terlihat sekitar 30 orang memenuhi klub jazz tersebut untuk menikmati lantunan musik nan merdu dari “TiAP”. Lagu-lagu yang dibawakan diantaranya A Place in the World, Train, Veiled Beauty, Handholding, Guilford Lane, Understanding, Welcoming Spring, sambil diselingi beberapa lagu karya Ade Ishs yang tidak ada di album “TiAP” ini yaitu Fragments of truth, Summer Breeze, Shades dan Walking in Meadow.

Saat intermezzo, dengan ramah dan bersahabat Ade menjelaskan tentang band-nya sekaligus memperkenalkan para anggota The ishs/Allen project. Pria yang sebelumnya juga telah meluncurkan album piano akustik solo bertajuk “Visions” (2009), “New Butterfly” (2010) dan “Four Seasons Suite” (2014) pula bercerita sedikit mengenai beberapa lagu yang dibawakan.

Melalui acara ini para penonton dapat memiliki CD album “TiAP” yang dijual seharga 25 dolar.

Awal Perjalanan Musik Ade Ishs

Kiprah Ade Ishs sebagai penulis lagu dan pianis jazz serta sebagai produser atau asisten produser sudah tidak asing lagi. Ia bahkan pernah memboyong pemain harmonica belia, Reyharp, tahun lalu ke Negeri Kangguru ini. Tetapi ia mengakui jika asal mula dirinya mulai aktif di dunia musik adalah sebuah “kecelakaan”.

“Saya awalnya kenalan dengan engineer yang punya studio rekaman, Allen Neundorf. Tadinya saya hanya sebagai klien, tapi kemudian beliau mengajak saya joint venture, proyek, dan butuh bantuan juga. Jadi secara natural saya bekerjasama dengan dia sejak saat itu sampai sekarang,” ujarnya mengenang masa lalu.

Ade mengaku walaupun genre musik yang ia bawakan kebanyakan jazz, ia tidak membatasi hal tersebut, sebab latar belakang musiknya merupakan musik klasik. Tahun lalu Ade sempat memproduseri sebuah album pop, bahkan menyumbang permainan pianonya beberapa kali untuk genre musik tersebut.

“Saya sih senang-senang saja. Mau jadi apapun kan ada suka dan duka. Di [Australia] bisa dibilang bagus, orang ada apresiasinya untuk karya-karya original, jadi saya merasa di-welcome juga di kota ini,” paparnya saat ditanya mengenai pengalamannya menjadi musisi di negara asing. “Sejak lulus sarjana, setahun di [Indonesia] lalu pindah ke [Australia], jadi hasil karya saya lebih banyak di sini,” tambahnya.

Pertemuan Ade Ishs dengan Chelsea Allen

“Saya pertama kali ketemu Chelsea Allen di city, Guilford Lane tepatnya, di tahun 2011. Kebetulan di situ ada galeri dan suka ada workshop musik. Suatu malam saya datang dan ketemu Chelsea yang baru dateng ke Melbourne dari Brisbane, dan lagi cari-cari teman untuk bermain. Sekali main bareng kita langsungklop. Sebenarnya saya malu ngajak dia karena dia bagus banget. Saya langsung jadi fans-nya. Tapi ternyata dia ngajak saya untuk main bareng,” kisah pria yang mengaku inspirasinya terhadap musik jazz berawal dari rekaman-rekaman jazz dan musik Frank Sinatra yang sering diputar ayahnya.

Untuk kedepannya, Ade Ishs memastikan dirinya akan kembali berkolaborasi dengan Chelsea Allen, bahkan mereka tengah mempersiapkan satu album lagi yang kini berada pada tahap pasca-produksi. “Untuk waktu rilisnya terserah labelnya saja,” ucap Ade Ishs mengakhiri wawancaranya dengan BUSET.

Full Text Archive

Bookmark the permalink.

Comments are closed